Art Original
EKSISTENSI GERAKAN PRO LINGKUNGAN DAN IMPLIKASINYA PADA MANAJEMEN EMOSI SANTRI (STUDI KASUS PADA LABORATORIUM SAMPAH UPT JATIAN PONDOK PESANTREN ANNUQAYAH LUBANGSA)
Gerakan pro lingkungan merupakan gerakan yang peduli terhadap
lingkungan. Dengan itu pesantren menjadi tempat berkumpulnya masyarakat muda
yang disebut santri. Salah satu yang menjadi problemm adalah pesantren adalah
penyumbang sampah terbanyak. Oleh karena itu diciptakanlah pesantren yang
berwawasan lingkungan. Beragam hal terjadi karena disebabkan oleh lingkungan
tidak sehat, tidak hanya itu lingkungan sehatpun sangat berpengaruh terhadap
individu utamanya pada emosinya. Karena jika lingkungan tidak bersih, bau dan
kotor emosi yang muncul itu adalah emosi negatif. Oleh karena itu individu harus
mengupayakan pemikirannya untuk berperilaku baik tgerhadap lingkungan dan
sekitar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dua hal: yang pertama Bagaimana
Eksistensi Gerakan Pro Lingkungan pada Laboratorium Sampah UPT Jatian Pondok
Pesantren Annuqayah Lubangsa, yang kedua Bagaimana Implikasi Gerakan Pro
Lingkungan di Laboratorium Sampah UPT Jatian Pada manajemen Emosi Santri
Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa. Dan untuk memudahkan tujuan tersebut
peneliti menggunakan metode studi kasus dengan menggunakan dua teori, yakni teori
Pro Environmental Behavior yaitu perilaku yang didasarkan pada tujuan untuk
menjaga lingkungan. Teori Emotional Intelligence sebagai pendeteksi dampak dari
adanya gerakan pro lingkungan.
Penelitian ini mengahasilkan kesimpulan bahwa menjaga dan merawat bumi
juga menjadi bagian dari merawat ilmu, mereka sudah patuh terhadap ketetapan
pesantren mengenai gerakan pro lingkungan. Dan hasilnyapun maksimal untuk
kemudian tercipta pesantren yang berwawasan lingkungan sehingga saat ini santri
atau masyarakat awam sekitar pesantren tahu bahwa ternyata sampah tidak hanya
menjadi dampak lingkungan tidak sehat dan di buang secara cuma-cuma akan tetapi
sampah dapat diaur ulang menjadi ketajian tangan dengan cara terus memotivasi diri
sendiri serta meningkatkan kreativitas dalam diri. Dalam penerapan tersebut terdapat
beberapa faktor, faktor penghambat adalah ketika santri masih belum bisa menerima
dengan diterapkannya gerakan pro lingkungan, faktor pendukung berupa santri
mampu memanej, mengontrol emosinya serta meningkatkan kreativitas sekaligus
memiliki gairah dan antusiasme untuk ikut andil dalam kegiatan pro lingkungan.
Tidak tersedia versi lain