Text
Bungkam Suara
Di NAKAL, sebuah negara yang memiliki sistem pemerintahan unik dengan Raja Utama dan Pemangku Adat, terdapat sebuah hari yang disebut Hari Bebas Bicara (HBB). Pada hari ini, setiap warga negara diperbolehkan berbicara apa saja, termasuk membongkar aib, menuduh, dan menyebarkan fitnah, tanpa takut konsekuensi hukum.
Tujuan awal HBB adalah untuk mencapai keadilan dengan mengungkap kebenaran dan kejahatan yang terjadi. Namun, realitanya, HBB justru menjadi pemicu kekacauan dan perpecahan. Jutaan aib dan fitnah terungkap, memicu kebencian dan perundungan antar warga.
Pertikaian terjadi di berbagai tingkatan: antar warga, tetangga, guru dengan murid, karyawan dengan atasan, bahkan dalam keluarga. Ucapan-ucapan yang seharusnya menjadi sarana komunikasi, berubah menjadi senjata yang merobek hubungan antar manusia.
Meskipun demikian, novel ini juga menampilkan harapan. Di tengah kekacauan, masih ada orang-orang jujur yang berusaha menyuarakan kebenaran, seperti jarum dalam tumpukan jerami.
"Bungkam Suara" mengangkat isu-isu penting seperti kebebasan berbicara, penyalahgunaan informasi, perundungan, dan dampak dari informasi yang tidak bertanggung jawab. Novel ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana kebebasan berbicara seharusnya digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.
Tidak tersedia versi lain